SI BOTAK DAN JURANG TAKDIR
Bab 1: Perjalanan yang Berbahaya
Langit senja memancarkan warna jingga keemasan saat Darman—pria botak berusia 35 tahun—melangkah di sepanjang tebing berbatu. Ia dan teman-temannya sedang dalam perjalanan menuju puncak Gunung Seraya, sebuah gunung terkenal dengan jalur curam dan jurang menganga di sisi-sisinya.
"Pelan-pelan, Botak!" teriak Jono, temannya, sambil tertawa. "Kepalamu bisa nyelip di antara batu kalau jatuh!"
Darman hanya mendengus. Ia sudah terbiasa dengan ejekan soal kepalanya yang licin bak bola bowling. Tapi saat ini, bukan kepalanya yang menjadi masalah—melainkan jalur yang semakin sempit dan licin akibat hujan semalam.
Angin berhembus kencang, membuat dedaunan berdesir dan tanah bergetar halus di bawah kaki mereka. Lalu tiba-tiba—
KRAKK!
Tanah di bawah kaki Darman longsor. Ia berusaha mencengkeram apa saja, tetapi tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"WOIII!!!"
Semua terjadi dalam sekejap. Darman melayang di udara sebelum gravitasi menariknya ke dalam jurang.
Bab 2: Jatuh ke Kegelapan
Dingin. Sunyi. Darman membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa remuk, tetapi keajaiban terjadi—ia tidak jatuh sampai dasar jurang.
Alih-alih, ia tersangkut di antara ranting-ranting pohon yang tumbuh di dinding tebing. Napasnya tersengal, dada naik-turun dengan cepat.
"Aku masih hidup..." gumamnya.
Dari atas, suara Jono dan teman-temannya menggema.
"Botak! Lo di mana?"
Darman mencoba berteriak, tetapi suaranya serak. Tangannya gemetar saat meraih cabang di dekatnya, mencoba mencari pegangan yang lebih kuat.
Ia tahu satu hal: jika ia tidak segera menemukan jalan keluar, ia bisa mati di sini.
Bab 3: Pertarungan Melawan Takdir
Darman menguatkan tekadnya. Dengan setiap tenaga yang tersisa, ia mulai memanjat perlahan. Tangannya berdarah akibat gesekan dengan batu-batu tajam, tapi ia tidak peduli.
Di atas, Jono melemparkan tali. "Cepet pegang, Botak!"
Dengan usaha terakhir, Darman meraih tali dan menggenggamnya erat. Teman-temannya menariknya ke atas, dan akhirnya—dengan napas tersengal—ia kembali berdiri di atas tanah yang kokoh.
Jono menatapnya dan tertawa lega. "Gue pikir lo bakal jadi legenda di dasar jurang, Botak!"
Darman terbaring di tanah, menatap langit yang mulai gelap. Ia hampir mati hari ini. Tapi satu hal yang pasti—hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Epilog: Pelajaran dari Jurang
Beberapa hari kemudian, di sebuah warung kopi, Darman merenung sambil mengelus kepala botaknya.
"Lo kenapa, Botak?" tanya Jono.
Darman tersenyum. "Gue cuma mikir... Kadang kita harus jatuh dulu, sebelum sadar betapa berharganya hidup."
Dan dengan tawa yang menggema di udara, mereka tahu satu hal: si Botak telah kembali—lebih kuat dari sebelumnya.
JANGAN LUPA DUKUNG MANCHESTER UNITED UNTUK MELANJUTKAN CERITA SELANJUTNYA.
JUDUL: SI BOTAK DAN JURANG TAKDIR
PENERBIT: CHANAUNITED
TAHUN/TGL TERBIT: SENIN 17 FEBRUARI 2025
HALAMAN: 3


Komentar
Posting Komentar