SI BOTAK DAN JURANG TAKDIR
Judul: Si Botak dan Jurang Takdir Bab 1: Perjalanan yang Berbahaya Langit senja memancarkan warna jingga keemasan saat Darman—pria botak berusia 35 tahun—melangkah di sepanjang tebing berbatu. Ia dan teman-temannya sedang dalam perjalanan menuju puncak Gunung Seraya, sebuah gunung terkenal dengan jalur curam dan jurang menganga di sisi-sisinya. "Pelan-pelan, Botak!" teriak Jono, temannya, sambil tertawa. "Kepalamu bisa nyelip di antara batu kalau jatuh!" Darman hanya mendengus. Ia sudah terbiasa dengan ejekan soal kepalanya yang licin bak bola bowling. Tapi saat ini, bukan kepalanya yang menjadi masalah—melainkan jalur yang semakin sempit dan licin akibat hujan semalam. Angin berhembus kencang, membuat dedaunan berdesir dan tanah bergetar halus di bawah kaki mereka. Lalu tiba-tiba— KRAKK! Tanah di bawah kaki Darman longsor. Ia berusaha mencengkeram apa saja, tetapi tubuhnya kehilangan keseimbangan. "WOIII!!!" Semua terjadi dalam sekejap. Darman melayang ...